Slow Living! di Tengah Kehidupan yang Serba Sat Set - Makanan cepat saji, pesan antar, E-Commerce, serta E-Money
merupakan sebagian dari buah perkembangan zaman. Kita dituntut untuk mengikuti
perkembangannya agar tidak tertinggal. Perkembangan ini
tentu memberikan keuntungan serta kemudahan yang membantu kita dalam
menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kehidupan serba sat set ini ternyata memberikan dampak yang
kurang baik. Sesuatu yang instan cenderung mempersempit proses, sehingga
rasa menghargai proses semakin berkurang. Selain itu, seseorang yang dituntut untuk
serba cepat cenderung mengalami kelelahan mental.
Slow living merupakan konsep hidup yang bertujuan untuk
memperlambat laju kehidupan, sehingga kita dapat merasakan makna hidup lebih dalam. Bukan berarti kita menyerah pada
hidup yang serba cepat, namun bertujuan memperlambatnya. Sebenarnya konsep ini sudah ada
sejak tahun 1980 ketika makanan cepat saji mulai menjamur. Lalu menjadi tren kembali ketika pandemi Covid mulai melanda.
Apakah slow living sulit untuk kita terapkan? Saya rasa
tidak, karena saya cukup menikmati dan mendapatkan manfaatnya. Konsep ini sederhana dan dapat kita lakukan sehari-hari.
Cara Mudah Menerapkan Slow Living
Kurangi Penggunaan Gadget dengan Detox Sosial Media
Detox sosial media merupakan bagian dari mengurangi penggunaan gadget. Saya sendiri banyak
menggunakan gadget dengan membuka sosial media. Berikut tips untuk menguranginya yaitu, dengan melihat sosial media apa saja yang
membuat kita menghabiskan waktu paling banyak, saat itu tik tok adalah aplikasi yang sering saya gunakan dan intensitasnya tinggi. Setelah itu, setiap bulan mulai berkomitmen untuk ritual
detox tik tok dengan menghapus aplikasi tersebut selama dua minggu. Sehingga
saya tetap menggunakan gadget sesuai fungsinya.
Dampak lain yang saya rasakan adalah, saya merasa lebih
fokus. Ketika belum mengenal detox sosial media, saat jenuh
melakukan pekerjaan saya cenderung mengalihkan untuk melihat sosial media dan
menghabiskan banyak waktu di dalamnya. Sehingga kegiatan yang prioritas
terabaikan dan tidak produktif.
Masak Makanan Sendiri
Konsep slow living ibarat berkebun. Kita menanam biji,
memberi pupuk dan menyirami, merawat dari hama dan gulma, lalu memanennya. Kita
dapat melihat setiap proses lambat yang penuh makna dan menghargainya. Begitu
juga dengan makanan. Makanan yang kita makan dan masak sendiri tentu mensajikan
proses yang bermakna, dari memilih bahan, membersihkan, memasak dan memberi
bumbu sampai masuk kedalam perut kita.
Sempatkan Hubungi Keluarga
Kesibukan merupakan alasan paling sering yang seseorang gunakan. Padahal menghubungi keluarga tidak menbutuhkan waktu yang lama. Cukup menyisihkan lima menit mungkin untuk sekedar bertanya “Apa ayah ibu sehat? Ibu masak apa hari ini? Adik gimana sekolahnya?”. Bisa jadi kita melewatkan sesuatu disela-sela kesibukan dan kehidupan kita yang serba di tuntut cepat. Cara ini membuat hubungan kita dengan keluarga akan semakin hangat.
Bagaimana, mudah bukan? Lalu bagaimana cara menerapkan slow living
versi kalian?
.png)
0 Komentar